Sutradara Aldo Swastia menyatakan bahwa tidak ada patokan pasti dalam menentukan batas antara fakta dan fiksi dalam film sejarah atau kepahlawanan. Dalam webinar yang berlangsung di Jakarta, Aldo menekankan bahwa pembuat film tetap harus menjaga keberadaan peristiwa besar dan seminimal mungkin mengolah fakta yang telah ada.
Menurut Aldo, sering kali data sejarah tidak lengkap atau komprehensif, sehingga pembuat film perlu menyuntikkan ide kreatif pada ruang-ruang yang masih abu-abu. “Dari fakta-fakta yang kami dapat, ada ruang yang masih belum pasti apakah ini benar terjadi atau tidak. Di situlah kami memasukkan cerita fiksi yang didramatisasi adegan-adegannya,” jelasnya.
Lebih lanjut, sutradara ini menekankan bahwa film sejarah tetap dapat menghadirkan fakta dengan nuansa berbeda, asalkan sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan. Bagian yang ingin ditampilkan secara fiksi bisa dibatasi, sedangkan adegan penting sebaiknya tetap mengikuti sejarah resmi.
Aldo juga menyoroti tantangan bahasa dalam film sejarah. Misalnya, penggunaan Bahasa Jawa di film yang ditujukan untuk penonton dari berbagai daerah seperti Makassar, Papua, atau Aceh bisa menimbulkan jarak. Oleh karena itu, dalam filmnya Kadet 1947, ia memilih Bahasa Indonesia agar pesan sejarah dapat diterima secara luas oleh penonton Indonesia.
Dengan pendekatan ini, fakta dan fiksi film sejarah dapat berjalan seimbang, memberikan dramatiasi yang menarik sekaligus tetap mempertahankan resonansi sejarah yang jelas bagi penonton. Dikutip dari antaranews.com
