Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai perjanjian perdagangan bebas Indonesia–Uni Ekonomi Eurasia (Indonesia–EAEU FTA) berpotensi membuka pasar ekspor baru sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap Amerika Serikat (AS).
Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan, EAEU dapat menjadi alternatif pasar di tengah kebijakan tarif impor tinggi AS dan ketidakpastian perdagangan global. Menurutnya, terdapat kesamaan produk ekspor Indonesia ke AS dan ke kawasan Eurasia.
“Ekspor Indonesia ke EAEU saat ini didominasi komoditas seperti minyak sawit, minyak kelapa, kopi, dan kakao. Komposisi ini juga banyak diekspor ke AS,” kata Shinta, Rabu (24/12/2025).
Selain komoditas, terbukanya pasar EAEU juga membuka peluang bagi produk padat karya seperti pakaian dan alas kaki yang selama ini masih bergantung pada pasar AS. Diversifikasi ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan industri dalam negeri.
Apindo menilai, Indonesia–EAEU FTA menjadi terobosan strategis karena memberikan preferensi tarif hingga 90,5 persen dari total pos tarif EAEU. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk nasional dan memperluas tujuan ekspor.
Sepanjang Januari–Oktober 2025, ekspor Indonesia ke negara anggota EAEU tercatat mencapai US$1,81 miliar atau tumbuh 17,46 persen secara tahunan. Meski pangsanya masih sekitar 0,81 persen dari total ekspor Indonesia, Apindo melihat ruang pertumbuhan ke kawasan Eurasia masih sangat besar.
Dari sisi investasi, pelaku usaha akan mencermati kepastian regulasi dan akses pasar sebelum melakukan ekspansi. Dalam jangka pendek, peluang utama dinilai berada pada peningkatan kapasitas produksi untuk menangkap peluang ekspor ke EAEU.
Sumber Bisnis.com
