Pameran ASEAN Trade Fair 2025 yang diselenggarakan di Ilsan, Korea Selatan, pada 13-16 November mendatang, diharapkan dapat menjadi gerbang utama bagi produk makanan dan minuman dari kawasan ASEAN. Acara ini secara spesifik menargetkan pasar Korea Selatan yang memiliki daya beli tinggi dan minat terhadap produk-produk asing. Kehadiran produk Indonesia dalam pameran ini menjadi sorotan utama, mengingat potensi besar yang dimilikinya.
Deputy Chief of Mission (DCM) KBRI Seoul, Ali Andika Wardhana, menyatakan bahwa produk bahan makanan Indonesia memiliki prospek cerah di Korea. Mulai dari kopi, jus, makanan ringan, hingga mi, banyak produk yang menarik perhatian konsumen Korea. Potensi ini didukung oleh hubungan bilateral yang kuat antara Indonesia dan Korea Selatan, yang telah terjalin sejak lama.
Kerangka Kemitraan Strategis Khusus dan perjanjian IK-CEPA semakin memperkuat posisi Indonesia di mata Korea. Perjanjian ini memangkas hambatan tarif dan membuka akses pasar yang lebih luas bagi kedua negara. Korea Selatan saat ini merupakan mitra dagang terbesar ketujuh bagi Indonesia, menunjukkan besarnya peluang untuk ekspansi pasar.
Potensi dan Peluang Produk Makanan Indonesia di Korea
Produk makanan dan minuman Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang pesat di pasar Korea Selatan. Menurut Ali Andika Wardhana, ketertarikan masyarakat Korea terhadap produk seperti kopi, jus, makanan ringan, dan mi dari Indonesia sangat tinggi. Hal ini menciptakan peluang ekspor yang menjanjikan bagi pelaku usaha di tanah air.
Hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan diperkuat melalui Kemitraan Strategis Khusus yang telah ada sejak 2017. Kerangka kerja sama ini mencakup berbagai bidang, termasuk perdagangan dan infrastruktur. Kemitraan ini menjadi landasan kuat bagi peningkatan volume perdagangan antara kedua negara.
Selain itu, implementasi Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) sejak Januari 2023, serta Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), turut membuka jalan bagi produk Indonesia. Perjanjian-perjanjian ini efektif memangkas hambatan tarif, membuat produk Indonesia lebih kompetitif di pasar Korea. Ali menambahkan, “Korea juga adalah mitra ke tujuh terbesar bagi Indonesia, tentu ini berarti peluang kita untuk bisa masuk ke Korea sangat besar.”
Tantangan dan Upaya Promosi Produk Indonesia
Meskipun memiliki potensi besar, produk Indonesia juga menghadapi sejumlah tantangan dalam menembus pasar Korea Selatan. Ali Andika Wardhana menyoroti standar persyaratan industri yang ketat, kendali kualitas yang tinggi, serta kebutuhan promosi yang lebih intensif. Aspek-aspek ini menjadi krusial untuk memastikan produk Indonesia dapat diterima dengan baik oleh konsumen Korea.
KBRI Seoul secara aktif berupaya mengatasi hambatan-hambatan tersebut dengan berbagai inisiatif. Mereka terus melakukan promosi produk Indonesia serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi oleh pelaku usaha. Selain itu, KBRI juga memberikan masukan terkait tren pasar yang sedang berkembang di Korea, membantu produsen menyesuaikan produk mereka.
Sinergi antara KBRI Seoul dan pemangku kepentingan terkait sangat penting untuk memberikan pendampingan berkelanjutan. Pendampingan ini bertujuan agar produk Indonesia semakin dikenal dan diterima oleh pasar Korea Selatan. Upaya kolektif ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk lokal di kancah internasional.
Peran ASEAN-Korea Centre dalam Pameran
Sekretaris Jenderal ASEAN-Korea Centre (AKC), Kim Jae-shin, menegaskan pentingnya pameran ini dalam memperkuat hubungan dagang. Ia menyatakan bahwa total perdagangan Korea dengan negara-negara ASEAN mencapai 192,8 miliar dolar AS pada tahun 2024, dengan sektor makanan dan minuman menjadi salah satu yang paling unggul. Angka ini menunjukkan betapa vitalnya sektor ini bagi perekonomian regional.
Pasar makanan dan minuman ASEAN sendiri memiliki nilai lebih dari 670 miliar dolar AS pada 2024 dan diproyeksikan mencapai sekitar 900 miliar dolar AS pada 2028. Proyeksi pertumbuhan tahunan rata-rata sebesar 7 persen ini mengindikasikan potensi pasar yang sangat besar. AKC berkomitmen penuh untuk mendukung pertumbuhan sektor ini.
Sejak tahun 2014, AKC telah aktif mendukung upaya promosi usaha kecil dan menengah (UKM) dari berbagai sektor di ASEAN. Pada pameran tahun ini, fokus utama adalah industri makanan, yang menyumbang sekitar 17 persen dari total PDB ASEAN. Kim berharap ASEAN Trade Fair 2025 dapat menjadi jembatan yang efektif bagi perusahaan makanan dan minuman ASEAN untuk terhubung dengan pembeli dan konsumen Korea.
Detail Pameran dan Harapan Konektivitas Bisnis
ASEAN Trade Fair 2025 berhasil menarik partisipasi dari 80 perusahaan makanan dan minuman dari 10 negara ASEAN. Pameran ini berlangsung di KINTEX Exhibition Center 2, menyediakan platform komprehensif bagi para peserta. Selain menampilkan beragam produk khas dari masing-masing negara, acara ini juga memfasilitasi pertemuan bisnis langsung.
Pertemuan bisnis ini dirancang untuk mempertemukan produsen ASEAN dengan para pembeli potensial dari Korea. Ini adalah kesempatan emas bagi perusahaan Indonesia untuk menjalin kemitraan strategis dan memperluas jaringan pasar mereka. Interaksi langsung diharapkan dapat mempercepat proses negosiasi dan kesepakatan dagang.
Dengan adanya pameran ini, diharapkan produk-produk Indonesia dapat semakin dikenal dan diminati oleh pasar Korea Selatan. Kesuksesan pameran ini akan membuka lebih banyak pintu bagi ekspor produk makanan dan minuman Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam rantai pasok global. Ini adalah langkah maju dalam upaya peningkatan Produk Indonesia di Pasar Korea.
Sumber: AntaraNews
