Meski pasar saham Indonesia sempat bergejolak akibat berbagai sentimen domestik dan global, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, IHSG bahkan mampu mencetak level tertinggi bulanan.
Secara year to date (YTD), IHSG naik dari kisaran 7.300–7.350 pada awal Januari 2025 menjadi 8.660 pada Desember 2025. Artinya, IHSG menguat sekitar 18,2 persen. Secara tahunan, indeks juga naik 17 persen, dari 7.400 pada Desember 2024 ke 8.660 pada Desember 2025.
Kekayaan 50 Orang Terkaya RI Cetak Rekor
Penguatan IHSG tersebut turut mendongkrak total kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia hingga mencetak rekor baru. Berdasarkan catatan Forbes, total harta mereka mencapai USD 306 miliar atau setara Rp5.093,7 triliun (kurs Rp16.646 per dolar AS). Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar USD 263 miliar.
Berikut beberapa nama yang menempati posisi teratas dalam daftar orang terkaya Indonesia 2025:
Budi dan Michael Hartono
Budi Hartono dan Michael Hartono masih kokoh di peringkat pertama orang terkaya Indonesia. Posisi ini telah mereka pertahankan selama lebih dari satu dekade. Kekayaan gabungan dua bersaudara tersebut tercatat mencapai USD 43,8 miliar.
Prajogo Pangestu
Di posisi kedua, terdapat konglomerat petrokimia dan energi Prajogo Pangestu. Kekayaannya meningkat 23 persen menjadi USD 39,8 miliar. Kenaikan ini ditopang aksi korporasi anak usaha Chandra Asri Pacific, yakni Chandra Daya Investasi, yang sukses menghimpun lebih dari USD 140 juta melalui penawaran umum perdana saham (IPO) pada Juli 2025.
Keluarga Widjaja
Keluarga Widjaja mencatatkan kenaikan nilai kekayaan terbesar tahun ini. Mereka naik ke peringkat ketiga dengan total harta USD 28,3 miliar, bertambah sekitar USD 9,4 miliar.
Lonjakan ini ditopang kinerja saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA) yang melesat lebih dari dua kali lipat, seiring ekspansi agresif ke sektor energi terbarukan. Pada Juni 2025, DSSA meresmikan pabrik panel surya terbesar di Indonesia dengan kapasitas hingga 1 gigawatt per tahun, bekerja sama dengan PLN Indonesia Power Renewables dan Trina Solar dari China.
Low Tuck Kwong
Sementara itu, Low Tuck Kwong turun ke posisi keempat. Kekayaannya menyusut USD 2,1 miliar menjadi USD 24,9 miliar, seiring tekanan pada saham Bayan Resources. Penurunan harga batu bara dan kenaikan biaya operasional membuat laba bersih emiten tersebut turun 16 persen menjadi USD 534 juta dalam sembilan bulan hingga September 2025.
Otto Toto Sugiri dan Marina Budiman
Lonjakan permintaan pusat data mendorong kinerja saham DCI Indonesia Tbk (DCII). Dampaknya, dua pendirinya, Otto Toto Sugiri dan Marina Budiman, untuk pertama kalinya masuk jajaran 10 besar orang terkaya Indonesia.
Otto berada di peringkat keenam dengan kekayaan USD 11,3 miliar, sementara Marina di peringkat kedelapan dengan USD 8,2 miliar. Pendiri ketiga DCII, Han Arming Hanafia, juga melonjak 38 peringkat ke posisi ke-12 dengan kekayaan USD 5,3 miliar.
Eddy Kusnadi Sariaatmadja
Daftar tahun ini juga diwarnai kembalinya Eddy Kusnadi Sariaatmadja, pemilik grup media Elang Mahkota Teknologi (Emtek). Saham Emtek hampir melonjak tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu, didorong ekspektasi pasar terhadap rencana IPO Super Bank Indonesia (SUPA) pada Desember 2025. Emtek sendiri menguasai sekitar sepertiga saham bank digital tersebut.
Pendatang Baru dan yang Tersingkir
Pendatang baru dalam daftar orang terkaya Indonesia 2025 adalah Hartati Murdaya, Direktur Utama Central Cipta Murdaya, yang menggantikan mendiang suaminya Murdaya Poo yang wafat pada April 2025.
Di sisi lain, Kuncoro Wibowo harus keluar dari daftar setelah saham jaringan toko perangkat keras Aspirasi Hidup Indonesia anjlok lebih dari 40 persen akibat penurunan kinerja. Ambang batas kekayaan bersih untuk masuk daftar tahun ini pun turun menjadi USD 920 juta, dari sebelumnya USD 1,05 miliar.
OJK Perkuat Pasar Modal
Untuk memperkuat daya tarik pasar modal nasional, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana menaikkan secara bertahap porsi minimum free float saham emiten menjadi 25 persen, dari sebelumnya 7,5 persen. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan kualitas pasar saham Indonesia ke depan.
Sumber Kumparan.com
