Ragam

Dekke Na Niarsik, Hidangan Adat Batak yang Sarat Makna dan Nilai Hidup

Dekke Na Niarsik, Hidangan Adat Batak yang Sarat Makna dan Nilai Hidup

Dekke Na Niarsik, kuliner khas Batak yang berbahan dasar ikan mas, bukan sekadar sajian lezat, tetapi juga memiliki makna simbolik yang sangat dalam dalam kehidupan masyarakat Batak. Makanan ini menjadi bagian penting dalam berbagai upacara adat, mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian.

Tokoh adat Batak di Pekanbaru, Op. Mangaradot Simanjuntak, menjelaskan bahwa Dekke Na Niarsik mencerminkan siklus kehidupan dan nilai-nilai kekeluargaan yang dijunjung tinggi oleh orang Batak.

“Setiap jumlah ikan yang disajikan memiliki arti sendiri. Satu ekor untuk pengantin baru, tiga ekor bagi yang baru punya anak, lima untuk mereka yang punya cucu, dan tujuh ekor hanya untuk raja atau tokoh adat. Angka ganjil ini melambangkan ketidak terputusan, karena ganjil itu tidak bisa dibagi dua sama rata, seperti hubungan keluarga yang tidak boleh dipisahkan,” ungkapnya saat ditemui di kediamannya di kawasan Marpoyan Damai, Pekanbaru, Kamis (24/07/2025).

Dalam penyajiannya, ikan mas harus tetap dalam kondisi utuh, tidak dipotong atau dibuang sisiknya, dan diletakkan dalam posisi seolah berenang dengan kepala menghadap ke orang yang menerima. Hal ini menjadi simbol doa dan harapan agar kehidupan berjalan seiring, searah, dan penuh kekompakan antar anggota keluarga.

“Kalau dipotong, kami percaya itu bisa menghambat rezeki atau keturunan bagi penerima. Karena itu sajian ini penuh kehati-hatian, bukan hanya untuk dinikmati, tapi juga disyukuri dan dimaknai,” jelas Op. Mangaradot.

Ikan mas sendiri juga bukan sembarang pilihan. Ikan ini dipilih karena hidup di air jernih dan sering berenang bersama, melambangkan kebersihan hati dan keharmonisan sosial. Terlebih lagi, ikan mas dianggap sebagai simbol panjang umur dan kejernihan hidup.

Kini, sajian Dekke Na Niarsik tidak hanya bisa ditemui dalam acara adat, tapi juga disajikan di berbagai lapo Batak yang tersebar di kota besar, termasuk di Pekanbaru. Namun demikian, masyarakat Batak tetap menjunjung tinggi nilai-nilai filosofi dari sajian ini.

“Generasi muda harus tahu bahwa kuliner ini bukan sekadar makanan. Di dalamnya ada cerita, doa, dan identitas kita sebagai orang Batak. Kalau kita lupakan, hilanglah salah satu jati diri kita,” tutup Op. Mangaradot.

Kuliner tradisional seperti Dekke Na Niarsik adalah bukti bahwa budaya Indonesia bukan hanya kaya rasa, tetapi juga kaya makna. Sudah seharusnya warisan seperti ini terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi mendatang. Dikutip dari RRI.co.id